Oleh "Himmatusy Syarifah, ST,M.Pd"
(Kepala MTs Umar Mas'ud)
Setiap kali bulan Agustus tiba, saya selalu merasa ada sesuatu yang berbeda. Bendera merah putih berkibar di sepanjang jalan, lagu-lagu perjuangan kembali terdengar, dan kita kembali diingatkan tentang arti sebuah kemerdekaan.
Namun bagi saya, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita mampu menjaga apa yang telah diperjuangkan oleh orang-orang sebelum kita. Tentang bagaimana sebuah cita-cita yang dahulu ditanam dengan air mata, tenaga, pikiran, bahkan harta, dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi setelahnya.
Dan setiap kali memikirkan tentang kemerdekaan, pikiran saya selalu kembali kepada Yayasan Umar Mas’ud.
Sebuah yayasan yang tidak lahir begitu saja. Di balik berdirinya lembaga ini, ada para ulama, guru, dan tokoh masyarakat yang mewakafkan sebagian besar hidupnya untuk sebuah cita-cita: membangun tempat pendidikan, mencerdaskan anak-anak, menanamkan ilmu dan akhlak, serta menghadirkan generasi yang kelak mampu memberi manfaat bagi masyarakat.
Saya beruntung pernah belajar dari sebagian orang-orang hebat itu.
Salah satunya adalah almarhum **K.H.R. Abdurrahman**. Sosok yang bagi saya bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga seorang pejuang yang begitu peduli terhadap perkembangan Yayasan Umar Mas’ud. Saya masih teringat bagaimana beliau selalu menanyakan perkembangan lembaga. Bukan sekadar bertanya, tetapi seolah ingin memastikan bahwa perjuangan yang telah dimulai oleh para pendahulu benar-benar terus berjalan.
Beliau juga sering bercerita tentang masa-masa perjuangan mencari dana dari para donatur untuk membangun sekolah dan madrasah. Dari cerita-cerita itu saya belajar bahwa membangun sebuah lembaga pendidikan tidak pernah mudah. Ada keringat, ada lelah, ada penolakan, ada perjalanan panjang, dan ada pengorbanan yang mungkin tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Tetapi mereka tetap berjalan.
Bukan untuk mencari nama.
Bukan untuk mendapatkan pujian.
Mereka hanya ingin melihat anak-anak belajar. Mereka hanya ingin melihat sekolah berdiri. Mereka hanya ingin melihat Yayasan Umar Mas’ud tumbuh dan suatu hari menjadi lembaga yang besar serta memberikan manfaat bagi banyak orang.
Saya juga pernah menjadi santri **K.H. Hazin Zainuddin** di Pondok Khairah Ummah. Dari beliau, saya belajar sesuatu yang mungkin sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam: adab.
Adab seorang santri kepada gurunya. Adab ketika menuntut ilmu. Adab dalam berbicara, bersikap, dan menempatkan diri.
Dari beliau saya memahami bahwa pendidikan tidak cukup hanya dengan membuat seseorang pintar. Pendidikan harus membuat seseorang memiliki akhlak. Sebab ilmu tanpa adab akan kehilangan maknanya.
Kemudian ada **Bapak Cuk Sugrito**, seorang guru sekaligus budayawan. Dari beliau saya banyak belajar tentang arti pengabdian. Beliau mengajarkan kepada saya, melalui sikap dan keteladanannya, bahwa mengajar bukan sekadar menjalankan pekerjaan. Mendidik adalah bentuk pengabdian.
Dari beliau saya belajar tentang keikhlasan, kesabaran, dan kejujuran dalam mendampingi anak-anak.
Ada pula **Ibu Hajah Fatimah**. Dari beliau saya belajar makna kesabaran yang sesungguhnya. Bagaimana menghadapi berbagai macam karakter manusia dengan hati yang lapang. Tidak mudah mengeluh. Tidak mudah menyerah. Dan tetap berusaha ikhlas meskipun tidak semua hal berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Mungkin itulah warisan terbesar yang diberikan para pendiri dan guru-guru terdahulu kepada kami.
Bukan hanya gedung.
Bukan hanya sekolah.
Bukan hanya nama besar Yayasan Umar Mas’ud.
Tetapi keteladanan.
Saya sering membayangkan bagaimana para pendiri dahulu menjalani perjuangan mereka. Mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu, bahkan harta. Mereka mungkin tidak memiliki fasilitas seperti yang kita miliki sekarang. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih besar: keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan panjang untuk membangun masa depan.
Mereka bekerja dalam diam.
Mereka berjuang tanpa banyak bicara.
Mereka memberi tanpa menuntut kembali.
Dan mereka percaya bahwa suatu hari nanti akan ada generasi yang meneruskan perjuangan itu.
Hari ini, generasi itu adalah kami.
Dan di sinilah terkadang hati saya bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kami sudah menjadi penerus yang sesungguhnya?
Apakah kami sudah memiliki keikhlasan seperti mereka?
Apakah kami sudah memiliki kesabaran seperti mereka?
Apakah kami sudah mampu menjaga kejujuran sebagaimana mereka menjaganya?
Apakah kami sudah mampu memberikan pengabdian yang sama, meskipun zaman telah berubah dan tantangan semakin berbeda?
Jujur, saya tidak selalu yakin dengan jawaban saya.
Terkadang saya justru merasa kecil ketika membandingkan diri dengan perjuangan mereka.
Saya sering berpikir, bagaimana mungkin saya bisa seperti mereka?
Bagaimana mungkin kami dapat mengembalikan kejayaan Yayasan Umar Mas’ud seperti yang pernah dicita-citakan oleh para pendirinya?
Namun kemudian saya menyadari satu hal.
Mungkin kami memang tidak harus menjadi persis seperti mereka.
Tetapi kami harus meneruskan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Keikhlasannya.
Kesabarannya.
Kejujurannya.
Kepeduliannya terhadap pendidikan.
Kecintaannya kepada guru dan murid.
Dan keyakinannya bahwa setiap anak yang dididik hari ini adalah harapan bagi masa depan.
Ketika melihat murid-murid yang dahulu belajar di lembaga ini kemudian tumbuh menjadi orang-orang sukses, saya merasa bahwa di situlah sebenarnya bukti perjuangan para pendiri.
Mungkin mereka tidak sempat melihat seluruh hasil perjuangannya.
Mungkin sebagian dari mereka telah berpulang sebelum melihat sejauh mana murid-murid itu melangkah.
Tetapi benih yang mereka tanam ternyata tumbuh.
Dan bukankah itulah bentuk keberhasilan seorang guru dan seorang pendiri lembaga pendidikan?
Bukan ketika namanya disebut.
Tetapi ketika ilmu yang pernah diberikan terus hidup dalam diri murid-muridnya.
Bukan ketika jasanya dipuji.
Tetapi ketika generasi yang dididiknya mampu menjadi manusia yang bermanfaat.
Maka di momentum kemerdekaan ini, saya tidak ingin hanya mengenang para pendiri Yayasan Umar Mas’ud.
Saya ingin bertanya kepada diri sendiri dan kepada kami semua yang hari ini berdiri sebagai penerus:
Apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita?
Akankah kita hanya menjadi generasi yang menikmati hasil perjuangan mereka?
Ataukah kita akan menjadi generasi yang kembali menyalakan api perjuangan itu?
Saya ingin percaya bahwa Yayasan Umar Mas’ud masih memiliki masa depan yang besar.
Saya ingin percaya bahwa kejayaan itu bukan sesuatu yang hilang selamanya.
Mungkin ia hanya sedang menunggu tangan-tangan baru yang mau bekerja dengan hati yang tulus.
Menunggu guru-guru yang mau mengajar bukan hanya dengan ilmu, tetapi dengan keteladanan.
Menunggu pengelola yang mau bekerja bukan hanya karena tugas, tetapi karena pengabdian.
Menunggu kami, para penerus, untuk kembali belajar kepada sejarah.
Sebab sebuah yayasan tidak akan besar hanya karena bangunannya.
Ia akan besar karena orang-orang di dalamnya memiliki hati yang besar.
Dan mungkin, inilah makna kemerdekaan bagi saya tahun ini:
Merdeka untuk melanjutkan perjuangan.
Merdeka untuk memperbaiki apa yang masih kurang.
Merdeka untuk belajar dari kesalahan.
Merdeka untuk kembali bekerja dengan ikhlas.
Merdeka untuk menjaga kejujuran.
Merdeka untuk mendidik dengan kasih sayang.
Dan merdeka untuk bermimpi bahwa suatu hari nanti Yayasan Umar Mas’ud kembali berdiri tegak sebagai lembaga pendidikan yang besar, maju, disegani, dan—yang paling penting—tetap memberikan manfaat bagi umat.
Jika dahulu para pendiri menanam dengan keringat dan pengorbanan mereka, maka hari ini giliran kami untuk merawat dan menyuburkan tanaman itu.
Jika dahulu mereka bermimpi melihat murid-muridnya berhasil, maka hari ini tugas kami adalah memastikan mimpi itu terus hidup.
Dan jika kelak anak-anak yang kami didik menjadi orang-orang sukses, mungkin saat itu kami akan memahami bahwa setiap lelah yang pernah kami rasakan ternyata tidak sia-sia.
Sebab perjuangan dalam dunia pendidikan memang tidak selalu memberikan hasil dengan cepat.
Tetapi ia meninggalkan jejak yang panjang.
Jejak yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian, ketika seorang murid berdiri sebagai manusia yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agamanya.
Untuk para pendiri dan guru-guru kami yang telah mendahului kami, izinkan kami meneruskan langkah yang pernah kalian mulai.
Kami mungkin belum sehebat kalian.
Kami mungkin masih banyak kekurangan.
Tetapi kami ingin belajar.
Kami ingin berusaha.
Kami ingin menjaga amanah ini.
Dan semoga suatu hari nanti, ketika kami menoleh ke belakang, kami dapat berkata kepada diri sendiri:
“Kami tidak membiarkan perjuangan kalian berhenti di tangan kami.”
Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dan untuk Yayasan Umar Mas’ud yang saya cintai—
Semoga kejayaan yang pernah dicita-citakan para pendiri kembali kita hadirkan, bukan dengan nostalgia, tetapi dengan kerja nyata, keikhlasan, kesabaran, kejujuran, dan pengabdian.
Karena kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang merayakan apa yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan.
Tetapi juga tentang keberanian untuk menjadi pejuang bagi generasi yang akan datang.

0 Comments